Friday, May 3, 2013

BAYANG-BAYANG MUTHI


Banyak orang bebicara tentang cinta. Surga manusia. Semua orang ingin mencintai dan dicintai. Sama seperti aku. Ingin sekali didatangi dengan seribu senyuman yang hinggap dalam gumpalan darah. Melengkapi kehidupan dengan sempurna.
Aku tak tahu bagaimana melangkahkan kaki. Menyusuri lorong-lorong bunga yang bermekaran. Memetik satu per satu. Mencium dengan mata terpejam.
Semua lintasan telah ku lewati. Pot-pot bunga yang berdiri tegap dipersimpangan jalan selalu tak memberi senyuman. Sama halnya dengan patung. Yang tak bernyawa.

***

Disaat tumpukan kerja tertata rapi dalam pikiran. Aku mendatangi gedung besar berlantai megah. Kertas yang bertuliskan undangan telah kuterima beberapa hari yang lalu. Nafsuku memborgol kaki dengan kuat. Tapi seorang teman yang menyerahkan kertas itu membebaskanku dengan sedikit luka yang masih terasa.
Kakiku merupakan yang paling pertama menginjak gedung besar berlantai megah diantara tamu undangan lainnya. Hatiku terasa gamang menyeret telapak kaki kedalam gedung. Tetapi nuraniku dapat merayu dengan halus. Dilantai dua aku sudah disambut dengan senyuman. Bibirku pun tersungging. Mengikuti wanita berbaju rapi nan indah dipandang. Dia telah menyambutku dengan sempurna. Sama seperti lukisan wajahnya. Subhanallah.

Tak hanya itu. Dia juga mengantarku memasuki ruangan. Didalamnya, mataku dapat menatap jauh ruangan itu. Kursi-kursi berbaris rapi dan tenang. Pikiranku bingung menatap kursi-kursi tak bertuan itu. Hanya dua atau tiga kursi yang telah bertuan. Melayani dengan nyaman.
 Ah, barisan kedua saja, batinku. Telapak kaki melangkah pelan. Merangkai
aransemen yang dipadu dengan lantai marmer. Begitu juga dengan Zaed yang selalu membuntutiku.

***

“Siapa namamu?” katamu padaku. Seorang lelaki berbaju rapi telah memompa keberanianmu. Kau melontarkan kalimat selembut sutra. Aku tak dapat membalas secara langsung. Mataku bersemayam terlebih dahulu didalam matamu. Mata indah bertedeng lensa.
Mataku mengitari bola matamu. Kesejukan merasuk dalam hati. Kepalaku tetunduk, sedangkan mataku masih bersemayam dalam matamu. Aku tak dapat beranjak.
“Oh. Namaku Fulan.”
Aku terhenyak. Saat matamu bergerak mempertanyakan lagi. Mengangkat garis matamu sedikit keatas. Menata lesung pipi yang sejuk dipandang.
“Namamu?” tanyaku lirih
“Muthi,” jawabmu dengan singkat.
Aku tak kuat lagi untuk selalu dapat meletakkan pandanganku didalam lorong-lorong sinar matamu. Nuaraniku menarik benang pandangan. Melarangku melihat ajnabiyah dalam lingkaran waktu yang panjang.

***

Hanya beberapa kata yang kulontarkan dari isi kepalaku. Begitu juga dengan kau. Hanya beberapa kata yang kau lempar dari lipatan mulutmu yang manis. Dan itu membuat pandanganku kabur. Hanya lingkaran wajahmu yang selalu muncul dalam kelopak mataku.

Aku tak dapat menghitung. Berapa banyak bayang-bayangmu muncul. Merangkai scene-scene indah yang menerbangkan pikiran. Saat mataku terpaku diatas aliran kalimat. Bayang-bayangmu selalu tersenyum diatasnya. Saat aku memandang seseorang. Bayang-bayangmu selalu menggantikan wajahnya dengan tersenyum manis. Saat mataku terpejam ditengah malam. Bayang-bayangmu mengajakku berjalan didalam mimpi yang nyata.
Saat nafas keluar. Saat mata terpejam. Bayang-bayangmu selalu hadir dalam kehidupan.

***

“Kenapa kau selalu terdiam?” tanya Zaed.
“Aku selau terbayang dengannya,” kataku lirih.
“Janganlah kau merasa terbebani dengan kehadirannya. Kalau dia sudah ditakdirkan sebagai tulang rusukmu, pasti akan kembali. Tenanglah!”
Semenjak pertama kali aku bertemu denganmu. Saat pertama pelatihan menulis cerpen di gedung besar berlantai megah itu. Aku selalu diam tak tentu. Belum pernah kurasakan deburan hati sebesar ini.
Kedatanganmu membuat hatiku sedikit tergugah. Berjalan menyusuri kisah. Antara aku dan kau. Sinar matamu yang bertedeng lensa melukiskan kagum di dinding hati. Ku ingin mencoba tuk lebih dekat denganmu. Tapi hatiku mengatakan belum waktunya.
Hari berikutnya aku datang lebih dini. Gedung itu masih kosong, kecuali kursi-kursi yang berbaris rapi dan para petugas yang masih mempersiapkan acara. Hatiku berharap cemas untuk dapat duduk bersanding denganmu.
Aku duduk terpaku. Kepalaku menekuri lantai yang mengkilap. Memandangi diri sendiri dibalik bayang-bayang lantai. Jarum jam tak hengkang dari langkahnya. Ia selalu menunjuk titik-titik yang berbaris melingkar dengan rapi. Menghiasi dinding gedung besar berlantai megah itu. Kursi-kursi yang berbaris rapi dan orang-orang berbaju rapi, telah menikmati keakraban mereka. Sesekali memecah gema ruangan dengan tawa.
Mata indah itu adalah kau. Mata indah bertedeng lensa. Kamu adalah pemilik mata itu. Batinku berharap Kau akan duduk bersanding denganku. Karena sebelah kiriku masih ada kursi kosong. Zaed selalu duduk di sebelah kananku. Sejak pertama kali. Saat hatiku merasa tenang. Biasa.
Semoga Muthi duduk tepat di sebelah kiriku, batinku berulangkali. Berulangkali aku berucap. Berulangkali pula aku memejamkan mata. Detak jantungku berlari kencang. Memompa denyut nadi yang mengalirkan darah. Udara lembut pun membelai telinga. Membuat jantungku tambah berlari kencang. Kucoba tuk menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu melepaskannya dengan perlahan, dan sangat pelan sekali.
“Kursi ini sudah ada yang menempati?” kata Hani, teman karibmu.
Mataku sedikit terbelalak melihatnya. Mengalirkan banyak pertanyaan. Kenapa dia yang lebih duluan? Mengapa tidak kau yang terlebih dahulu ingin menempati kursi ini? Kenapa? Mengapa?
 “Mass.....?,” ucapnya mempertanyakan dengan mempertemukan alisnya.
“Ouh..., be...belum ada,” jawabku gelagapan.
“Aku duduk disini ya?”
“Iy...iya..” ucapku dengan sedikit menari garis senyum yang kaku.
“Terimakasih.”
Kepalaku tertunduk. Menyesali kejadian yang tak kuinginkan menjadi kenyataan seperti ini. Ku edarkan pandanganku ke belakang. Ternyata Kau duduk di belakangku. Kepalamu mengangguk senyum. Bibirku tersenyum menahan kekecewaan.

***

Manusia memang tak dapat merencanakan taqdir yang di inginkan. Manusia hanya bisa menjalani taqdir, meski pahit dirasakan. Dan itulah taqdir yang telah ditentukan.
Jangan banyak menyesali kehidupan. Karena tak dapat berpengaruh. Apabila kita tak dapat mengintropeksi.
Aku tak dapat berkata ataupun menuliskan sesuatu. Saat mataku membaca kata-kata bisu yang tertempel dalam dunia maya. Barisan kalimat itu selalu berjalan didepan retina. Kalimat itu saling bertengkar. Beradu tanduk dalam lingkaran cinta.
“Kenapa dia selalu melempar serapah busuk kepadamu?” tanyaku.
“Aku juga tak tahu,” jawabmu berpura-pura.
“Dia kan sahabat karibmu?”
“Iya,”
“Dia menuduh aku menghalanginya untuk menjalin cinta,” lanjutmu.
“Menjalin cinta? Dengan siapa?”
Kau diam. Menundukkan kepalamu yang selalu kau tutupi jilbab. Kau sembunyikan sinar matamu yang menyimpan banyak rahasia. Pasti Kau mengerti tentang semua ini. Tentang perpecahanmu dengan teman karibmu sendiri. Tapi kenapa kau menutupinya.
“Muthi....?”
Kau tak menjawab. Tingkahmu kebingungan dan lari meninggalkanku.

***

Ternyata cinta harus berlaku kejam. Saat keinginannya terhalangi. Dan kau adalah korban dari semua itu. Aku tak dapat menyambangimu dengan harapan yang indah. Saat hati ini harus terpecah. Menyesali kejadian yang tak diinginkan.
“Biarkan semua ini berjalan sesuai takdir Tuhan!” kata Zaed menasihatiku.
“Ambil saja hikmahnya, jangan banyak kau bayangkan!” lanjutnya.
Aku hanya bisa menghela nafas. Memainkannya dalam lamunan kosong. Meliuk-liuk. Bagai asap rokok yang berjoget di tengah kesunyian malam.
Muthi, kau adalah keindahan yang pertama kali memasuki relung hatiku. Menggetarkannya dalam pandangan yang hanya sekejap. Belum pernah ku melihat keindahan ciptaan Tuhan yang selalu membayangi pikiran. Aku hanya minta maaf atas kehadiranku yang menggedor persahabatanmu. Sampaikan juga pemintaan maafku untuk teman karibmu itu, Hani. Aku sudah tahu keinginannya yang menyebabkan kau menjadi kambing hitam. Aku disini hanya mengagumi saja. Belum waktunya bagiku untuk memilih.
Aku hanya menyampaikan deretan kalimat itu dalam hembusan udara pagi. Melepaskannya bersama burung-burung yang terbang dari sangkarnya. Memekikkan jeritan dalam pejaman mata. Dan berusaha menghilang.


Diselesaikan di Kwanaran, 12 Desember 2012 M

Bagikan

Jangan lewatkan

BAYANG-BAYANG MUTHI
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.